Desa Galala
Galala-Hitulama Panas Pela

Desa Galala, Kota Ambon dan Negeri Hitulama, Kecamatan Leihitu Maluku Tengah, Selasa (20/10) meneguhkan kembali hubungan Pela yang sudah terbina puluhan tahun silam. Hal ini dilakukan dalam konsep panas pela yang dihadiri seluruh warga dua kampong tersebut. Sayang, kegiatan yang sangat baik itu, idak dihadiri satupun pejabat teras Pemprov Maluku maupun Kota Ambon. Mereka hanya mewakilan staf ahli dan asisten menghadiri kegiatan itu.

‘’Perbedaan agama, ras, suku adalah sesuatu yang biasa dan terjadi dimana saja, namun ketika ada kekuatan adat seperti panas pela ini, maka mengingatkan kita semua, bahwa sebenarnya kita adalah orang saudara dan patut untuk hidup berdampingan, saling sayang dan saling membantu,’’ demikian pernyataan tegas Raja Negeri Hitulama, Zalhana Pellu kepada suaraMALUKUcom, saat kegiatan Panas Pela Hitulama dengan Desa Galala, Selasa (20/10).
pela galala-hitu2
Raja Negeri Hitulama Zalhana Pellu dan Kepala Desa Galala Johan Van Capelle

Kegiatan Panas Pela Hitumesing-Galala sangat baik untuk memperteguh persaudaraan yang sudah dilakukan leluhur dua kampung puluhan tahun silam. Bahkan demi event  ini, Raja Hitumesing menemui Bupati Malteng meminta ijin meliburkan sekolah di Hitu dari tingkat SD sampai SMA agar mereka terlibat dan menyaksikan prosesi adat tersebut.

‘’Apa gunanya kalau acara ini kita lakukan hanya untuk generasi tua saja. Penting juga untuk generasi muda bahkan anak-anak mengetahuinya, sehingga mereka saksikan sendiri, beginilah kehidupan kita orang Maluku yang hidup dalam persaudaraan yang saling mengasihi, saling membantu dan tidak ada perbedaan baik itu suku maupun agama. Dan mereka bisa melanjutkannya kedepan,’’ ungkapnya.

Kepala Desa Galala, Johan Van Capelle mengamini apa yang disampaikan Raja Hitulama.  Menurut dia, sangat penting acara ini digelar, agar sejarah tidak dilupakan generasi muda. ‘’Sejarah ini pula yang meneguhkan bagaimana kerukunan antar umat beragama di Maluku sudah menjadi akar, dan bukan karena dipaksakan,’’tandasnya.

Galala lanjutnya, mayoritas penduduknya beragama Kristen sementara Hitu Lama mayoritas beragama Islam. Walau demikian, sejak leluhur sudah terpatri ikatan adat yang tidak boleh dilanggar seenaknya. ‘’Kita ingin menunjukan bagi Indonesia dan dunia, bagaimana kerukunan antar umat beragama di Maluku ini tumbuh subur dan sangat pantas untuk dijadikan laboratorium kerukunan antar umat beragama,’’ tegasnya.


Di Galala sendiri, ada sebuah tugu atau monument yang menggambarkan kuatnya pela antara kedua kampong tersebut. Di monument tersebut, Kades Galala dan Raja Hitulama kembali menguatkan ikrar hubungan Pela tersebut disimbolkan dengan meminum minuman tradisional. antar kedua pimpinan negeri tersebut
Gadis-gadis remaja Hitulama mengenakan kaos Panas Pela
Gadis-gadis remaja Hitulama mengenakan kaos Panas Pela

Kepala Balai Pelestarian Nilai Sejarah Ambon, S Tiwery dalam sambutannya sampaikan, pela merupakan salah satu budaya yang sangat baik sebagai bagian dari pemersatu masyarakat Maluku. Hubungan Pela, merupakan konsep hidup saling berbagi dan toleransi antar desa dan masyarakat, baik yang seagama maupun yang berbeda agama. Dan konsep ini hadir sejak  jaman leluhur dan masih terpelihara sampai kini. ‘’Budaya ini harus tetap dijaga dan dilestarikan dan patut diketahui anak cucu Maluku saat ini. Pela dan gandong terbukti sangat ampuh dalam menjaga perdamaian di Maluku,’’ sergahnya.

Seputar Galala
Galala-Hitulama Panas PelaGereja Galala dan Hative KecilKunjungan warga ke kantor desaFakta dari Desa Galala - Hative Kecil , Ambon