Desa Galala
Gereja Galala dan Hative Kecil

Galala dan Hative Kecil, dua negeri kecil yang hampir tak kelihatan batas geografisnya, terletak di tepian pantai Teluk Ambon, berhadapan dengan Negeri Poka dan Negeri Rumah Tiga. Masyarakat Galala dan Hative Kecil adalah masyarakat nelayan penangkap ikan cakalang dan tuna yang sangat andal dari generasi ke generasi.Negeri Galala dan Hative Kecil, walaupun mempunyai dua raja, akan tetapi dalam kehidupan beriman kedua negeri ini bergabung menjadi satu jemaat yang biasanya disebut Jemaat Galala dan Hative Kecil (Gatik). Di saat Gereja Protestan Maluku (GPM) lahir dan masih dalam nuansa penjajahan Belanda pada 6 September 1935, jemaat Gatik juga berada dalam suasana yang sama.Tercatat pada era tahun 1939-1946, Pendeta Luhulima menjadi pendeta di Gatik saat itu.Pada waktu itu pula terjadilah krisis di tanah Maluku karena bertepatan dengan masuknya Tentara Australia dan datangnya bangsa Jepang yang mengaku saudara tuanya Indonesia. Jemaat Gatik saat itu banyak juga berjasa membantu tentara Australia yang ditawan Jepang dengan memberikan bantuan makanan dan minuman, bahkan hingga rela mengorbankan nyawanya. Hal inilah yang membuat warga jemaat Gatik mengungsi ke hutan-hutan, bahkan banyak juga warga yang dipukul dan disiksa Jepang saat itu. Rumah gereja yang lama sekali itu diberi nama Ebenhezer dan ditinggalkan oleh jemaat. Rumah gereja itu berdinding beton, tetapi karena ditinggalkan begitu saja selama pendudukan Jepang dan tidak terawat, gedung gereja itu menjadi hancur.Untuk beribadah anggota, jemaat Gatik membangun sebuah rumah gereja darurat di tempat pengungsi yang disebut Gereja Bawa Air pada tahun 1941-1945.Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada era tahun 1946-1948, warga jemaat Gatik turun ke tepi pantai lagi dan mereka beribadah di rumah keluarga E Noya (alm) yang saat itu telah menjadi tempat penjualan ikan asar di depan PLTD Hative Kecil.Selanjutnya, dibangun lagi gereja darurat dari daun rumbia yang terletak di perbatasan Galala dan Hative Kecil pada petuana keluarga Muriany dan rumah gereja tersebut dinamai Gereja Tolongan yang berfungsi dari tahun 1949-1950.Setelah bencana tsunami atau yang oleh warga setempat lebih dikenal dengan sebutan “air turun naik” meluluhlantakkan Negeri Galala dan Hative Kecil di tahun 1950, selama enam tahun warga jemaat Gatik melaksanakan ibadahnya di sebuah gedung gereja darurat yang saat ini telah dijadikan Perum Perikanan.Rancangan Tuhan kepada warga Jemaat Gatik adalah rancangan damai sejahtera. Setelah bencana tsunami, kedua negeri terus membenahi diri pada berbagai sektor dan sektor perikanan. Penangkapan ikan cakalang, khususnya dan tuna menjadi perhatian utama dan ini membawa berkat yang berlimpah bagi kedua negeri.Pada tahun 1954 atas mufakat bersama antara jemaat dan desa, yakni Pendeta Wattimena (alm) dan Raja Galala E Joris (alm), serta Raja Hative Kecil J Muriany (alm) mulailah digagas untuk membangun sebuah gedung gereja baru.Dengan tekad yang membara pada tahun 1954 itu juga, yakni pada 22 Mei 1954, peletakan batu pertama dilakukan untuk pembangunan gedung gereja yang baru tersebut.Jemaat Gatik, termasuk jemaat yang berani membangun gereja. Sebab pada saat itu keadaan Indonesia baru pada masa-masa pembenahan. Para tukang yang dipercaya melakukan pembangunan, yaitu Johanis Muskita (alm) sebagai kepala tukang, Neles Hiariej (alm) sebagai wakil kepala tukang dibantu oleh tukang masing-masing Mon Paliama (alm), Wilhemus Joseph (alm), Leo Siahaya (alm), Enos Joseph, dan Beng Breemer.Untuk keperluan 12 tiang lilin dalam gereja, E Noya (alm), juragan motor ikan Waitua dan seorang Buton telah memimpin rombongan orang Galala-Hative Kecil mengambil kayu di Hutan Hitu, tepatnya di Telaga Kodok.Mereka menarik kayu ke Hunuth dan selanjutnya dibawa ke Galala-Hative Kecil dengan menggunakan arumbai. Sementara itu, batu diambil dari kali Galala atau Wairuhu dan pasir dari pantai.Gedung gereja baru tersebut akhirnya diresmikan 31 Oktober 2006 oleh Ketua Sinode GPM Pendeta de Fretes (alm) dengan nama Imanuel yang artinya “Allah Menyertai Kita” (Matius 1:23).Dalam perjalanan sejarah, Gedung Gereja Imanuel ini telah mengalami beberapa kali pembaruan di antaranya tahun 1978 diganti atap sirap dengan seng. Pada 15 November 1992, menara lonceng diresmikan oleh Pendeta F Lakburlawal. Tahun 2006 ini, lantai gereja diganti dengan keramik. Jika pada awalnya jemaat Imanuel Gatik yang kini di bawah Klasis GPM Pulau Ambon hanya terdiri dari 10 kelompok pelayanan, sekarang telah ada tujuh sektor dan 31 unit. Ketujuh sektor itu, yaitu sektor Tiberias, Bukit Sion, Getsemani, Yarden, Efata, Galilea, dan Yabok.Kini di saat jemaat Imanuel Gatik merayakan Jubelium (50 tahun) gereja tersebut, patutlah kita memaknai ungkapan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu. Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten I Sekda Maluku, Jopie Patty pada perayaan jubelium tersebut, ia mengatakan perayaan ini mengingatkan umat pada sebuah strategi misi Yesus yang memilih para nelayan sebagai komunitas pertama dan dipakai untuk suatu tugas pekabaran injil kepada dunia dan manusia. “Yesus tidak sekadar menggunakan analogi nelayan atau analogi orang-orang pesisir, sebaliknya memakai para nelayan dan orang-orang pesisir itu dengan seluruh eksistensi mereka untuk melakukan tugas kemuridan dan pekabaran injil,” jelasnya.Momentum jubelium ini mengajak semua pihak untuk refleksi tentang keberadaan Gereja Imanuel sebagai gereja para nelayan di Galala-Hative Kecil.“Sebuah gereja yang ada di pesisir pantai tetapi juga di pinggiran kota, yang karena itu berada di suatu titik transisi kehidupan masyarakat kota dan orang-orang pesisir,” ungkapnya. Di titik transisi ini, menurutnya, umat dihadapkan pada berbagai bentuk perubahan dan perkembangan sosial yang tanpa sadar menuntut peran gereja untuk semakin menumbuhkan karakter umatnya.Jemaat Imanuel Gatik yang saat ini berada pada wilayah pelayanan Klasis GPM Pulau Ambon ke depan akan semakin terus berkembang karena Allah tetap menyertai.

Seputar Galala
Gereja Galala dan Hative KecilKunjungan warga ke kantor desaFakta dari Desa Galala - Hative Kecil , AmbonGalala-Hitulama Panas Pela